November 28, 2011

Wisata Kota Tua Jakarta

Kebanyakan orang yang berdomisili di Jakarta selalu menghabiskan liburan akhir pekan mereka dengan berjalan-jalan di mall atau pusat-pusat perbelanjaan, dan ke luar kota untuk menghilangkan kepenatan. Banyak yang tidak sadar bahwa di Jakarta sendiri juga mempunyai objek wisata lain selain mall atau pusat perbelanjaan yang tidak kalah menarik dengan objek wisata di kota lain. Merupakan peninggalan bersejarah, kawasan kota tua merupakan objek wisata yang wajib dikunjungi, terutama bagi mereka yang hobi fotografi, tempat ini adalah tempat yang cocok untuk hunting foto :)

Kota Tua Jakarta, dikenal juga dengan sebutan Batavia Lama (Oud Batavia), adalah sebuah wilayah kecil di Jakarta, Indonesia. Wilayah khusus ini memiliki luas 139 ha melintasi Jakarta Utara dan Jakarta Barat (Pinangsia, Taman Sari dan Roa Malaka).


Dijuluki "Permata Asia" dan "Ratu dari Timur" pada abad ke-16 oleh pelayar Eropa, Jakarta Lama dianggap sebagai pusat perdagangan untuk benua Asia karena lokasinya yang strategis dan sumber daya melimpah.



Kota ini dirancang dengan gaya Belanda Eropa. Pada tahun 1972, Gubernur Jakarta, Ali Sadikin, mengeluarkan dekrit yang resmi menjadikan Kota Tua sebagai situs warisan. Keputusan gubernur ini ditujukan untuk melindungi sejarah arsitektur kota — atau setidaknya bangunan yang masih tersisa di sana, walaupun pada kenyataannya tidak banyak yang dilakukan untuk melindungi warisan era kolonial Belanda.



Dalam pengembangan daerah Jakarta, pemprov DKI Jakarta menghancurkan beberapa bangunan atau tempat yang berada di daerah kota Tua Jakarta dengan alasan tertentu. Tempat tersebut adalah:

  • Benteng Batavia
  • Gerbang Amsterdam (lokasinya berada dipertigaan Jalan Cengkeh, Jalan Tongkol dan Jalan Nelayan Timur. Dihancurkan untuk memperlebar akses jalan)
  • Jalur Trem Batavia (jalur ini pernah ada di kota Batavia, tetapi sekarang sudah ditimbun dengan aspal, karena Presiden Soekarno menganggap Trem Batavia ini menyebabkan macet)

Daya tarik utama Kota Tua adalah Museum Sejarah Jakarta, atau lebih populer dengan nama Museum Fatahillah. Warga kota Jakarta pasti sudah familiar dengan bangunan gedung ini, karena sering menghiasi kartu pos, poster-poster serta halaman majalah, tetapi belum semua warga Jakarta tertarik mengunjunginya.
Bangunan Museum Fatahilah selesai dibangun pada 1710 dan pernah menjadi kantor gubernur Hindia Belanda. Kompleks bangunan ini cukup luas, terdiri dari bangunan utama yang mempunyai tiga lantai serta dua bangunan sayap di bagian kiri dan kanan.
Kompleks ini juga memiliki ruang bawah tanah yang pernah digunakan sebagai penjara. Sampai sekarang ruangan penjara bawah tanah ini masih bisa dilihat, lengkap dengan rantai untuk mengikat kaki narapidana serta terali.
Museum Fatahilah menyimpan lebih dari 23 ribu barang koleksi yang terdiri dari koin kuno, keramik, mebel tua, lukisan, prasasti, serta artefak-artefak bersejarah lainnya. Koleksi museum ini yang paling menarik antara lain pedang eksekusi, meriam si Jagur yang berasal dari Makau, serta patung Hermes yang dulunya menghiasi jembatan di depan gedung Harmoni.
Museum ini adalah objek wisata yang wajib dikunjungi di kawasan Kota Tua.


Selain Museum Fatahillah, yang terkenal lainnya adalah Museum Wayang. Selain menampilkan koleksi wayang kulit dan wayang golek yang sudah kita kenal, museum ini juga memamerkan wayang-wayang kontemporer serta wayang dari luar negeri. Maka tidak heran apabila museum ini pernah dinobatkan menjadi salah satu museum terbaik di Indonesia oleh sebuah majalah wisata terkenal di tanah air.


Pada masa revolusi kemerdekaan Indonesia, wayang sempat digunakan sebagai alat propaganda politik. Tak heran kalau ada wayang berbentuk figur Bung Karno, Bung Hatta dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Selain itu, wayang juga pernah dijadikan alat penyebaran agama. Seorang pastor dari Surakarta pernah menggunakan wayang untuk menceritakan kisah-kisah dalam kitab Injil. Menariknya lagi, ia juga membuat gunungan wayang yang bergambar figur Yesus Kristus. Jangan lupa pula untuk melihat wayang boneka Si Unyil yang populer pada tahun 1980-an.
Setiap hari Minggu pada minggu kedua, minggu ketiga dan minggu terakhir setiap bulan, Museum Wayang menggelar pementasan wayang dengan dalang-dalang terkenal. Tontonan langka ini patut masuk dalam agenda kegiatan akhir pekan Anda!


Ada juga Museum Bahari di Kota Tua, terletak agak jauh dari museum lainnya, sekitar 1 km di sebelah utara stasiun kereta Jakarta Kota, tidak jauh dari Pasar Ikan. Kalau Anda kesulitan menemukan lokasinya, Anda bisa bertanya pada warga sekitar dengan berpatokan pada Pasar Ikan. Kompleks Museum Bahari terdiri dari dua bangunan utama yang masing-masing memiliki dua lantai. Bangunan museum ini cukup bersih dan terawat, meski barang-barang koleksinya terlihat agak kusam. Di lantai dasar, dipamerkan aneka replika kapal serta rangkuman sejarah maritim di Kepulauan Nusantara. Lantai satu memamerkan bagian-bagian kapal serta peralatan navigasi kuno.



Sempatkan pula untuk melihat Menara Syahbandar yang pernah menjadi titik kilometer nol kota Jakarta. Jika Anda naik ke lantai paling atas menara ini, Anda bisa menyaksikan pemandangan pelabuhan Sunda Kelapa.

Selain museum-museum di atas, masih banyak bangunan tua lainnya yang akan membawa Anda ke masa lalu, seperti Museum Bank Indonesia dengan bangunannya yang paling modern jika dibandingkan dengan bangunan museum lainnya, Museum Bank Mandiri yang menampilkan diorama yang mengantar imajinasi kita ke suasana kantor bank di masa lalu, serta Museum Seni Rupa dan Keramik yang lokasinya tidak jauh dari Museum Fatahilah.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar